Kelak Tak Perlu Maaf Lagi (Semoga)

Kelak Tak Perlu Maaf Lagi, Semoga…
Oleh: Emha Ainun Nadjib

Untuk Hari raya, keterlaluanlah kalau hanya saya suguhkan secangkir kopi seperti biasanya. Musti saya kasih gelas yang besar, atau silakan ngejog. Kalau ‘ndak, nanti saya dirasani. Kalau toh tak dirasani, dan hanya dibatin saja sebagai seorang bakhil, kirkir, ‘akik yaman’, ya tugas saya untuk ngrasani diri saya sendiri.

Idul Fithri juga kita sebut Hari Raya. Semacam Hari Pesta, atau Yaumul Haflah. Memang, salah satu fitrah manusia ialah daerah yang hangat dan daging yang ingin gemuk. ‘Kan dietnya sudah sebulan penuh.

Fitrah manusia itu dua sisi mata uang: wadag dan ruh. Ingin benda-benda, tapi juga ingin makna. Kalau makna thok ‘kan kecut. Tapi kalau benda thok, kaya thok, nanti jadi Panjenenganipun Kewan. Berhariraya itu gampang. Tapi beridulfitri susah bukan main!

Berhariraya: mencari benda, menikmati benda, pokoknya yang sifatnya pemenuhan wadaqiyah, itu gampang. Allah menyediakan alam yang kaya raya, tinggal kuluu wasyarabuu, asal laa tusrifuu. Kalau sampai ada yang miskin, apalagi yang faqir, berarti ada dua kemungkinan. Pertama, kita memang pilih zuhud, pilih menjadi zahid, acuh beibeh terhadap segala keduniaan. Kedua, ini yang gawat: ada sistem pengaturan kekayaan Allah yang tidak adil.

Jadi kalau ada milyaran manusia berada di bawah garis kemiskinan, bisa dipastikan bahwa para manajer sejarah ini terdiri dari binatang-binatang yang kerasukan syaithanirrajim.

Lha, yang susah itu beridulfithri. Besok pagi kita akan sibuk minta maaf. Apa saja sih kesalahan kita? Apa saja dosa kita sebagai pribadi, sebagai pejabat, sebagai seniman, sebagai tukang becak, sebagai bagian dari organisasi sosialitas antar manusia? Mungkinkah kita menginventarisir semua itu, untuk kita ajukan dan mohonkan ‘grasi’ dari segenap manusia yang kita salahi: agar benar-benar kita peroleh Idul Fithri? Jangan-jangan kita pernah dengki kepada orang lain: apa benar kita akan akui itu dan menjamin lusa tak kita ulang lagi? Jangan-jangan kita pernah memperbudak orang lain: kita egois, hanya tahu kepentingan kita, hanya ingat kebutuhan kita sendiri. Jangan-jangan kita terbiasa merampok orang, memfetakompli orang lain sebagai ‘hostes’ belaka, sebagai ‘tukang pijat’ dari klangenan kita, bahkan menjadi lintah yang menghisap, menyerap, menggerogoti tenaga darah kehidupan orang lain. Apa betul itu semua akan kita insafi demi memperoleh Idul Fithri?

Untunglah orang-orang di sekitar kita terbiasa hidup dengan pola Nabi Isa: “Kalau pipi kananmu ditempeleng, kasih pipi kirimu!” Tapi nanti makin lama orang makin akan memakai model Nabi Muhammad, yang sudah mengevolusi, sudah mengalami akmaltu lakum dinakum, sudah menyempurna akidah kekhalifannnya. Kalau pipi kananmu ditempeleng, jangan kasih pipi kirimu. Itu namanya nahiy munkar. Pembebasan. Kenapa?

Mungkin anda sudah kebal, sehingga tak bergeming oleh seribu tempelengan di pipi Anda. Mungkin Anda sudah sakti mandraguna. Berkat fatwa-fatwa para ulama mengenai iman, takwa dan kesabaran, sehingga Anda tak pusing oleh pukulan-pukulan.

Tapi kalau kita membiarkan pipi kita ditampar hanya karena kita sudah punya kekebalan ‘aji lembu sekilan spiritual’: itu namanya show of force, pamer kekuatan. Kita menunjukkan betapa hebatnya ketabahan kita, dan itu tak mustahil mengandung potensi riya’ atau takabbur.

Membiarkan pipi ditempeleng, berarti membiarkan orang menempeleng. Dan kalau kita membiarkan orang lain berbuat salah, itu namanya egoistis. Kita terlalu berkonsentrasii untuk menghimpun ‘pahala memaafkan’ sambil membiarkan orang lain menumpuk ‘dosa menempeleng’. Nggak bener dong! Jadi, tindakan memaafkan itu dilandasi oleh tugas untuk quu anfusakum wa ahlikum naara. Lain soal kalau kita sukar memaafkan disebabkan oleh watak pendendam dalam diri kita.

Dalam mekanisme psikologisnya, kecenderungan yang biasanya malah justru mendorong orang yang ‘ngintip’ kita dari balik pohon, menunggu kita melanggar peraturan lalu lintas. Makin banyak kita melanggar, makin punya kesempatan pula ia me-nahiy munkar kita.

Jadi, ia mengkapitalisir dosa-dosa kita demi akumulasi pahala-pahala dia, untuk credit point dan sogokan. Polisi yang baik ialah berjuang sedemikian rupa sehingga kemungkinan kita berbuat salah ditekan serendah mungkin.

Bukan malah dijebak dan ‘dimakan’. Dengan kata lain, kita tidak berburu ‘pahala memaafkan’. Yang diusahakan oleh setiap muslim ialah keadaan dimana tak lagi perlu memaafkan, karena memang tak ada kesalahan.

Nah, kalau persyaratan-persyaratan maknawi dari proses maaf-memaafkan itu sudah lumayan dipenuhi, maka kebangetan-lah kalau lantas kita masih juga tak mau memaafkan. Lha wong Tuhan saja punya banyak nama dan sifat memaafkan: Al-‘Afuw, Al-Ghafur, dan lain-lain. Pernah ada seorang Sufi yang ditempelenggi oleh serdadu gara-gara dia menunjuk kuburan, ketika ditanya, “Dimana tempat yang ramai di sekitar sini?” Tatkala kemudian datang seseorang yang menjelaskan bahwa lelaki itu adalah tokoh spiritual penasihat Sang Khalifah, serdadu itu lantas menyembah-nyembah memohon ampun. Sang Sufi berkata: “Aku sudah memaafkanmu sejak sebelum engkau memukulku.”

Di dalam Al-Qur’an, konsep mengenai negeri yang baik (adil makmuur) dipaparkan bersamaan (terkait, konstektual) dengan rabbun ghafuur tidak baldatun thayyibatun thok, tapi pakai ‘Allah mengampuni’ segala.

Memang kitab pamungkas itu diturunkan tidak untuk iseng. Coba, apakah kira-kira Allah mengampuni Amerika Serikat yang terus-menerus memveto resolusi yang menyangkut kezaliman Israel atas Palestina. Beranikah Anda menjamin bahwa Allah memaafkan histeria indvidualisme, materialisme dan liberalisme di negeri-negeri makmur yang dewasa ini kita makin mabuk menirunya?

Tetapi kita memang punya hobbi mengeksploitir watak pengampun Allah. Kita tumpuk dosa setinggi-tingginya karena toh Allah Maha Pengampun.

Kita terapkan theology of balance, bikin pelanggaran sebanyak-anyaknya dan bikin pahala untuk menimbanginya. Kita terlalu ‘berjual beli’ secara kampungan dengan Allah. Padahal, sekali lagi, tujuan setiap Muslim ialah bagaimana mencapai kepribadian yang tak lagi perlu mohon maaf: justru karena memang sudah tak punya kesalahan dan dosa lagi.

Juga terhadap sesama manusia kita semoga akan pernah amat sedikit saja butuh saling mamaafkan, karena saking sedikitnya kesalahan yang kita bikin. Insya Allah, filsafat permaafan bukanlah ‘alat penghapus dosa’ (sehingga dosa perlu dibikin dulu), melinkan metode agar kita tak lagi menyelenggarakan dosa.

Cakrawala perjalanan Muslim ialah keadaan bebas maaf. Keadaan di mana maaf tak diperluka, karena relatif tak kita lakukan hal-hal yang perlu dimintakan maaf dan dimaafkan. Jadi, Idul Fithri, bukanlah menghapus kesalahan yang kita adakan dulu, melainkan berusaha tidak melakukan kesalahan. Tapi namanya juga cakrawala. Kita tak akan pernah sampai ke sana. Kita sekadar mengarahkan diri ke sana.

Bukankah bahwa “manusia itu tempat kesalahan” termasuk sunnatullah atau hukum alam? Dan itu bisa kita eksploitir: Mari korupsi sebanyak-banyaknya, lantas kita bilang: Al insaanu mahallul khatha’ wan-nisyaan! Manusia itu tempat persemayaman kesalahan dan lupa!

Asal ingat bahwa malaikat Munkar dan Nakir memiliki Aji Bajra geni yang amat nggegirisi. Bahkan “wa man ya’mal mistqala dzarratin syarran yarah!” (barangsiapa memperbuat sedebu keburukan, he’ll see…kata Allah) bisa berlaku detik ini juga.

Demikianlah saya ancam diri saya sendiri…

Saya ucapkan Minal ‘Aidin wal Faidzin: semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang kembali ke fitrah dan orang-orng yang beruntung. Siapakah yang beruntung? Laa yastawii ashhabun-naari wa ashhabul-jannah, ashhabul-jannati humul-faaizun. Tidak sama sekabat neraka dengan sekabat surga. Sekabat surga ialah orang-orang yang beruntung. Surah apa dan ayat berapa itu ya?

*Emha Ainun Nadjib, Secangkir Kopi Jon Pakir*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *